KOMODIFIKASI MEDIA DALAM EKONOMI POLITIK MEDIA
Oleh : Meri Astuti (214110303069)
4 HTN C
Komodifikasi adalah proses Bisnis adalah proses mengubah
barang berharga menjadi produk yang dijual. Komersialisasi menggambarkan cara kapitalisme mencapai tujuannya melalui akumulasi modal atau konversi nilai guna menjadi nilai
tukar. Komoditas dan komoditas
adalah dua hal yang memiliki hubungan objek-proses
dan merupakan salah satu
indikator kapitalisme global yang terjadi
saat ini. Dalam ekonomi politik,
komersialisasi media merupakan
salah satu bentuk manajemen
media selain penataan dan
spasialisasi. Pemanasan adalah
proses mengubah barang dan jasa yang memiliki nilai guna (nilai berdasarkan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan) menjadi
nilai tukar (nilai berdasarkan
pasar). Komodifikasi ini adalah
salah satu cara melihat fenomena di
mana barang dan jasa ditransformasikan
menjadi semacam nilai pasar
melalui kebijakan ekonomi politik-media. Istilah "ekonomi politik" didefinisikan
dalam komunikasi Vincent Mosco.
Menurut Mosco, pengertian
“ekonomi politik” dapat dipahami secara lebih sederhana, yaitu. hubungan antara kekuasaan (politik) dan sumber daya ekonomi dalam
masyarakat. Ketika seseorang
atau sekelompok orang dapat mengendalikan
suatu masyarakat, itu berarti mereka
memiliki kekuasaan de facto, meskipun
mereka tidak memiliki
kekuasaan eksekutif, legislatif, atau
yudikatif. Pandangan Mosco tentang penguasa lebih tegas tentang penguasa dalam arti sebenarnya, yaitu orang atau kelompok orang yang menguasai kehidupan rakyat. Padahal basis kehidupan sosial
adalah ekonomi. Dengan demikian,
"ekonomi politik" adalah perspektif yang dapat mengurai masalah permukaan.
Yang
pertama ada komodifikasi konten yang memiliki arti konten yang sekarang tidak
mendidik hanya mementingkan nilai guna ekonomi. Konten
media selalu mencerminkan kepentingan sponsornya.
Dari fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa pemilik sumber telemedia
adalah pengusaha. Ideologi bisnis
adalah menjual sesuatu untuk mendapatkan keuntungan. Tanpa keuntungan, perusahaan ditutup. Industri media adalah bisnis yang
sangat menguntungkan. Media memiliki kepentingannya sendiri, sehingga pesan siaran juga diatur dengan
cara ini. Misalnya, teknik media
profesional mencakup penyajian
berita menggunakan sistem
naratif dan denotasional yang
berulang. Asumsi-asumsi yang
diciptakan oleh pertunjukan-pertunjukan
ini berupa objektivitas, kebenaran,
dan pengetahuan penonton untuk mengadopsi versi dunia tertentu. Itu sebabnya media
terkadang bisa menstereotipkan sesuatu,
karena ada begitu banyak aspek tertentu yang menurut media layak untuk diliput, sementara banyak juga aspek lain yang menonjol
karena tidak sesuai dengan narasi yang
berulang. dan diagram denotasi.
Hubungan antara konten dan kepemilikan terletak pada pemilik media yang memiliki kekuatan untuk mengecualikan kemungkinan mempengaruhi
konten. Ada tiga cara utama
kepemilikan media dapat memengaruhi
keputusan pembuatan konten media:
(1) mereka dapat mengontrol anggaran
dan rutinitas organisasi media (2) mereka
dapat mengatur berita melalui proses pemilihan
dan pembingkaian (3) mempekerjakan dan memecat karyawan.
Yang
kedua ada komodifikasi audiens Cara
lainnya adalah komodifikasi pemirsa, yang dilihat dari peringkat, yang kemudian dijual sebagai iklan. Komersialisasi media, khususnya khalayak, dapat terjadi ketika nilai guna komunikasi dialihkan ke nilai tukar. Ada pertukaran simbolik antara produk komunikasi dan tujuan penggunaan produk. Realitas komunikasi bukan hanya informasi, tetapi hubungan kepentingan dan kekuatan pasar. Memiliki audiens adalah
kunci keberhasilan media. Media menawarkan
berbagai lakon untuk menarik
perhatian publik. Banyak impresi, banyak iklan, banyak iklan meningkatkan rating media. Penonton secara sukarela memberikan waktu luang
sebanyak mungkin. Kesadaran
palsu masyarakat (false awareness) melalui rasa puas karena program TV menarik, meninabobokan dan lupa bahwa masyarakat cenderung meningkatkan nilai program
media). Melalui proses ini,
khalayak sebenarnya memposisikan
dirinya sebagai pekerja media. Namun berbeda dengan karyawan pada umumnya, khalayak pekerja digolongkan sebagai pekerjaan yang tidak dibayar. Ini adalah
salah satu bentuk keberhasilan dalam komodifiksi
media bagi audiens/penontonnya.
Yang ketiga ada komodifikasi pekerja yaitu membayar upah
tidak sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Proses komodifikasi pekerja
di industri media didasarkan pada
tiga hal, yaitu: pemisahan,
sentralisasi, dan pemulihan.
Komodifikasi buruh sangat
mungkin terjadi karena mereka
yang dianggap “berkuasa” terus
bergerak membuktikan keberadaannya
bahkan menguasai sebagian besar pasar media, baik sebagai pelaku langsung maupun di balik layar. Proses hegemonik terjadi dalam masyarakat
secara tidak langsung atas konsep-konsep tertentu di bawah pengaruh kekuatan media. Helmy Yahya adalah contoh konkrit komersialisasi buruh yang karyanya bisa menghasilkan keuntungan berlipat. Dengan keahlian yang beragam, ia mampu meningkatkan harga jualnya di industri
media. Ia mampu mengubah ilmunya
menjadi komoditas yang laku dan menguntungkan. Misalnya dengan
berbagai produk hiburan televisi yang sebagian besar merupakan program showcase
saluran televisi swasta nasional, seperti kuis dan reality show. Menetapkan rating sebagai tolok ukur kesuksesan acara, media
berlomba-lomba menggunakan produk-produk
Helmy Yahya yang kebanyakan
meraih rating tinggi dengan harapan media mendapat keuntungan besar dari banyaknya iklan yang dipasang di acara tersebut. Terdapat relasi kuasa yang saling
menguntungkan antara sumber
produksi (Helmy Yahya: Triwarsana),
distribusi (stasiun televisi swasta nasional) dan konsumsi (penonton yang menentukan rating program).
Pada
permasalahan seperti yang dijelaskan di atas, yang pertama komodifikasi konten,
harus mengunggah minimal video yang mendidik jangan Cuma sekedar mementingkan
ekonominya saja. Lalu, komodifikasi audiens juga janngan Cuma melihat dari
rating namun juga harus melihat apakah video tersebut lalyak ditonton atau
dipublish. Dan yang terakhir ada komodifikasi pekerja, dalam komodifikasi ini
seseorang yang bekerja harus digaji sesuai dengan yang mereka kerjakan.
Komentar
Posting Komentar