KRITIS DAN EMPIRIS EKONOMI POLITIK MEDIA
Oleh : Meri Astuti (214110303069)
Ekonomi politik adalah pendekatan
untuk mempelajari masalah tidak dapat dijelaskan dalam dunia ekonomi dan akan diselesaikan dengan ekonomi bersih. Pendekatan
ini bertujuan membantu orang dalam memahami
dan menghadapi keragaman masalah dramatis dalam sistem kepuasan melalui kebutuhan
dan pemahaman manusia sifat kebutuhan/keinginan
itu sendiri dan cara memproduksi dan mendistribusikan hal-hal untuk
memuaskannya. Sebagai contoh di luar konteks media, mari kita lihat dulu
tentang gaji, pekerjaan, kekuatan dan daya tahan. sebuah kesempatan karyawan dari beberapa pabrik melihat gaji
diterima tidak lagi cukup kebutuhan sehari-hari
karena harga barang makanannya enak, memang begitu kemudian bergabung Dalam tuntutannya anti
mereka bertemu keputusan perusahaan
tidak menaikkan upah karyawannya karena ingin untuk mempertahankan "nilai
tambah" yang diperoleh. Dari penjualan barang. Jangan terima keputusan, serikat karena itu memutuskan
untuk mengadakan demonstrasi dari demonstrasi hingga pemogokan. Itu tidak bisa
dijelaskan di sana ekonomi murni karena mereka itu tidak memiliki pengaturan
teoritis, itu dinamika pembentukan serikat, agitasi digunakan oleh para
pemimpin aktivis buruh menambah jumlah anggota, penampilan efek resistensi yang
signifikan, atau masalah resistensi. (Halida Bahri: 2018)
Moskow
terus mendefinisikan ekonomi politik secara keseluruhan lebih luas "Studi
dalam Manajemen dan Penanganan Kehidupan Sosial". Intinya Ekonomi politik
mengkaji bagaimana media bisa bertahan untuk hidup di tengah persaingan media
yang semakin ketat. Mosco menjelaskan,
lahirlah kajian ekonomi politik media massa bersamaan dengan munculnya ruang produksi
kapitalis sehingga McQuail (2005) menyebutkan bahwa kajian ekonomi politik
merupakan produk Marxisme baru atau neo-Marxis. Keduanya, mengkritiknya karena
itu media adalah suprastruktur ideologi
kapitalisme Ekonomi politik media adalah bagian dari perspektif kritis yang
mendalam ilmu Komunikasi. Terakhir, pandangan sayap kiri terhadap program
religi di televisi bisnis hanyalah topeng bagi para kapitalis yang mendambakan
kekayaan keuntungan finansial terbesar. Bentuk
media pemasaran Menurut Mosco (1996), ada empat bentuk komersialisasi
dalam media, yaitu monetisasi konten
media, monetisasi audiens, monetisasi dunia maya (internal) dan manufaktur cybernetic (luas). (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016)
Untuk
waktu yang lama, studi ekonomi media pola kritis (ekonomi politik kritis
media). Untuk studi media yang ada di Indonesia. Kebanyakan atau bahkan hampir
semua studi media yang ada didasarkan pada pendekatan empiris - positivis. Ini
jarang terjadi karena ada penelitian yang menggunakan pendekatan bertipe
kritis. Jenis penelitian empiris ini biasanya dilakukan dengan pendekatan model
kuantitatif dengan menggunakan teknik samping dan generalisasi ke depan. Fitur
lain adalah penelitian empiris dikhususkan untuk penjelasan dan deskripsi
fenomena media. (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016)
Agus
Sudibyo dalam Ekonomi Politik Media Penyiaran mengatakan, pendekatan kritis dalam
studi ekonomi politik media dicirikan oleh tiga karakter sentral. Pertama, pendekatan
ekonomi politik yang bersifat holistik. Ia meneliti secara menyeluruh interelasi
antara dinamika sosial, politik, dan budaya dalam suatu masyarakat, serta menghindari
kecenderungan untuk mengabstraksikan realitas-realitas sosial ke dalam teori
ekonomi atau teori politik. Kedua, pendekatan kritis ekonomi politik media bersifat
historis. Bukan hanya berkaitan dengan fokus perhatian terhadap proses dan pergerakan
sejarah, melainkan terutama sekali adalah ekonomi politik kritis berusaha menjelaskan
secara memadai bagaimana perubahan-perubahan dan dialektika yang terjadi berkaitan
dengan posisi dan peranan media komunikasi dalam sistem kapitalisme global.
Ketiga, pendekatan kritis studi ekonomi politik juga bersifat praksis. Ekonomi
politik kritis mempunyai perhatian terhadap segi-segi aktivitas manusia yang
bersifat kreatif dan bebas dalam rangka untuk mengubah keadaan, terutama di
tengah arus besar kapitalisme. (Halida Bahri: 2018)
Pendekatan
ekonomi politik yang bersifat kritis terbagi atas tiga varian yaitu:
1).
Pendekatan instrumentalis melihat elemen ekonomi sebagai faktor atau variabel
yang determinan dan menentukan media.
2).
Pendekatan konstruktivis melihat faktor ekonomi sebagai sistem yang belum
sempurna. Sehingga, ekonomi media tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi
saja, namun juga oleh faktor lain.
3). Pendekatan strukturalis lebih memfokuskan perhatiannya pada relasi dan pergulatan unsur-unsur dalam struktur internal media dengan faktor-faktor eksternal. (Agus Sudibyo: 2000)
Kajian ekonomi politik media berfokus pada struktur produksi industri media di bawah kapitalisme dalam mengonsumsi fakta-fakta sebagai bahan baku untuk memproduksi informasi publik. Dalam kerangka ini, muncul implikasi-implikasi negatif yang memapar publik, konsumen media. Ini terjadi ketika produk jurnalistik lebih berorientasi pada kebutuhan elite, bukan apa yang seharusnya dan sebaiknya dibaca publik. Menurut Arianto, kualitas pengetahuan tentang masyarakat, yang diproduksi oleh media untuk masyarakat, sebagian besar dapat ditentukan oleh nilai tukar berbagai ragam isi dalam kondisi yang memaksakan perluasan pasar, dan juga ditentukan oleh kepentingan ekonomi para pemilik dan penentu kebijakan. Berbagai kepentingan tersebut berkaitan dengan kebutuhan untuk memperoleh keuntungan dari hasil kerja lembaga media dan juga dengan keinginan bidang usaha lainnya untuk memperoleh keuntungan, sebagai akibat dari adanya kecenderungan monopolistisdan proses integrasi, secara vertikal maupun horizontal.Dalam lingkup ilmu ekonomi, sebenarnya permintaan informasi politik telah lama menjadi topik utama teori pilihan rasional. (Halida Bahri: 2018)
Dalam ilmu ekonomi media dilihat semata sebagai badan usaha semata.Sementara dalam ekonomi politik, media dilihat sebagai salah satu kelompok kepentingan; yang memperjuangkan agenda-agenda politik tertentu untuk meraih profit ekonomi. Arianto menjelaskan, media massa memang telah menjelma sebagai industri yang menjual produk berupa informasi untuk dikonsumsi masyarakat demi memperoleh profit bagi pemiliknya. Pola ini telah menggurita secara global dalam suatu sistem kapitalisme media, di mana media massa berperan penting sebagai agen ideologis yang membentuk pola pikir dan memandu perilaku konsumennya. Nilai umum yang biasanya ditanamkan adalah perihal memacu hasrat konsumsi, pandangan hidup liberal, melegitimasi wacana investasi dan pasar bebas, hingga memassifkan budaya trend-popular, dan sebagainya. Dalam memproduksi berita-berita politik, pendekatan ekonomi politik melihat media sebagai institusi yang memadukan tiga tujuan, yang mana dua di antaranya—ekonomi dan politik—telah disebutkan di atas. Namun itu adalah tujuan lanjutan dari media dalam perkembangannya, setelah tujuan sosial, yakni tujuan “untuk memberitahu”, telah diselenggarakan. (Halida Bahri: 2018)
Saran: Paradigma “peraturan” yang berpendapat bahwa media dapat mendistorsi cakupan pemberitaan mereka karena mengakomodasi kepentingan pemasang iklan, bahkan mengklaim bahwa komersialisme berlebihan dalam berita dan konten media melemahkan fondasi demokrasi yang partisipatif.Dengan asumsi-asumsi di atas, Ellman dan Germano kemudian mengembangkan kerangka pemersatu sederhana di mana kedua variabel tersebut dapat diartikulasikan, di mana pengiklanan dapat menaikkan kompetisi sehingga media akan memedulikan akurasi.
Komentar
Posting Komentar